Tuesday, February 16, 2016

Seribu Kerinduan

Penulis: Herlina P. Dewi 
Editor: Paul Agus Heriyanto
Proof Reader: Tikah Kumala
Desain Cover: Teguh Santosa 
Layout: Deeje
ISBN: 978-602-7572-19-5
Cetakan 1, November 2013




********
“Sudah, jangan lagi kamu menghakimiku. Jangan lagi kamu memperoloku. Percuma saja. Aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi, Kecuali rasa kebas ini. Dan sekarang, biarlah kehidupan memilihkan jalan untukku. Menjadi pelacur.”
Renata seorang fashion editor dengan karier cemerlang di kantornya, harus pasrah pada keadaan. Setelah berpisah dengan Panji, lelaki yang sudah dipacari selama empat tahun karena perjodohan biadab itu, dia pergi ke semua tempat yang pernah mereka singgahi untuk menelusuri jejak-jejak kebersamaan. Hidup menjadi sangat membosankan baginya, karena hari-harinya kini hanya dihabiskan untuk mengenang Panji. Dia pun lantas memilih menjadi pelacur, karena dengan profesi barunya itu, dia kembali merasa dicintai, dihargai, dibutuhkan, dan disanjung.
Namun, ia sadar, menjadi pelacur hanyalah sebuah persinggahan sebelum dia benar-benar melanjutkan hidup sesuai dengan keinginannya. Lantas, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin dijalaninya? Tanpa Panji? Bisakah?
******
Aku ingin melupakan semua kesunyian malam ini, itu sebabnya aku menulis, agar aku bisa mengubah senyap menjadi rindu, gelap menjadi kenangan, dan beku menjadi cinta. (Renata Kumala- Fashion Editor Novelist)

Renata: fashion editor majalah wanita, cantik, cerdas, mandiri, dan tidak bergantung pada orang tua selepas lulus kuliah dari jurusan jurnalistik UI. asal Bandung

Panji: kekasih Renata Technical consultant di perusahaan IT. asal Jogja

Ayu: Cantik, seksi, pintar dan punya prinsip, wanita yang dijodohkan oleh orang tua renata, dari kalangan jetset.
Tapi, tidak ada perempuan di dunia ini yang ketika lahir bercita-cita menjadi pelacur. Pelacur bukanlah sebuah pekerjaan.

Kehidupan sudah mengkondisikan hidup pelacur seperti itu. Mereka nggak bisa menghindar. Life must go on. Perut lapar, taka da yang gratis di dunia ini. 

Ah, mungkin alasan mereka hanya ingin mendapatkan uang dengan cara yang lebih mudah.” Panji

“Siapa bilang pekerjaan itu mudah? Mereka dipaksa untuk terus melayani tamu, bercinta dengan orang-orang yang baru ditemui pertama kali. Laki-laki dengan mulut bau alcohol, badan yang sudah seminggu nggak kena sabun, atau malah kuku-kuku yang penuh oli. Tidak semua orang bisa melakukannya loh, Sayang. Being a prostitute is not easy.” Renata

Konfik dimulai dari hubungan tanpa restu, tepatnya dari orang tua Panji, Panji DIJODOHIN oleh ibunya. orang jawa lihat bibit, bebet, dan bobot harus nikah sama orang jawa lagi, begitu selalu ibunya berpesan. 

Asal-usul calon pasangannya, dari keluarga seperti apa, dan kepribadiannya bagaimana.  

Habis sudah masa depanku. Sudah tak ada artinya lagi aku sebagai seorang lelaki. Aku bahkan tak punya kuasa atas hidupku. Pekerjaan, jodoh, pun masa depanku. Semua telah diatur oleh orang tua. Dan aku cuma bisa pasrah seperti ini? Dasar pengecut!

Buat Renata, menjadi pelacur hanyalah sebuah persinggahan. Seni bertahan hidup untuk sementara sebelum dia benar-benar melanjutkan hidup sesuai dengan keinginannya. Ya, untuk sementara. 

Sudah lihat, kan, betapa hidup tidak pernah berpihak kepadaku…
Jangan salahkan aku jika berkeputusan menjalani hidup ini dengan menjadi pelacur. Karena dengan cara begini aku merasa dibutuhkan kembali. Aku merasa dihargai. Dicintai. Disanjung. Dipuji. Dibayar mahal.

Sudah, jangan lagi kamu mengahkimiku. Jangan lagi kamu memperolokku. Percuma saja. Aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi, kecuali rasa kebas ini. Dan sekarang, biarlah kehidupan memilihkan jalan untukku. Menjadi pelacur. Tidak ada perempuan di dunia ini yang ingin jadi pelacur kalau tidak terpaksa. Apalagi untuk selamanya. 
Quote:
1. “Menjadi wanita penghibur itu bukan takdir, It’s a choice.” Hal-20 
2. Melakuakan pekerjaan yang sesuai passion memang sangat menyenangkan. Hal 45
3. Tuhan pasti punya rencana. Hal 92
4. Cinta merupakan kekuatan yang tak akan pernah bisa ditundukkan. Kalau kita berusaha mengendalikannya, cinta akan menghancurkan kita. Kalau kita berusaha mengurungnya, cinta akan memperbudak kita. Dan jika kita belajar untuk memahaminya, cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan. Hal 131
5. Love will find the way? Hal 140
6. Cinta memang nggak bisa dipaksakan. Hal 132
7. Kebahagiaan, apa pun bentuknya, nggak ada yang gratis di dunia ini. Hal 142
8. Ketika perempuan sedih, dia hanya butuh didengarkan, dan teman untuk bicara. Hal 152
9. Pasangan akan membuat hidup lo lebih stabil. Hal 174
10. Semua orang tua pengin yang terbaik untuk anaknya, dalam versinya. Hal 176
11. Sometimes, we need to stop blaming the past and start creating the future. Hal 175
12. Hidup nggak sekedar urusan uang. Hal 176
13. Kalau kita terus-terusan menyalahkan masa lalu, kita justru akan terus hidup bersamanya, dan semakin sulit untuk membebaskan diri. Hal 178
14. Hidup ini idah walau segala sesuatunya nggak ada yang sempurna. Hal 240


Kata baru: Filantropi


Filantropi (bahasa Yunaniphilein berarti cinta, dan anthropos berarti manusia) adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Istilah ini umumnya diberikan pada orang-orang yang memberikan banyak dana untuk amal. Biasanya, filantropi seorang kaya raya yang sering menyumbang untuk kaum miskin.
Seorang filantropis seringkali tidak mendapatkan dukungan menyeluruh terhadap tindakannya. Tuduhan yang sering diterima adalah mengenai masalah tujuan amal (seperti mendanai seni bukannya memerangi kelaparan dunia), atau memiliki tujuan terselubung seperti penghindaran pajak dengan efek samping popularitas.

0 comments:

Post a Comment