Saturday, February 27, 2016

Pulang - Tere Liye

Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati 
Cover: Resoluzy
Lay out: Alfian
Cetakan V, Oktober 2015





“Aku tahu sekarang. Lebih banyak luka dihati bapakku dibandingkan di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.”
Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.


Cerita ini dimulai sejak Bujang berusia 15 tahun, Bapak Samad dan mamak Midah menikah dari berbeda kampung yang akhir nya tetap berjodoh walau tidak mendapat restu dari keluarga mamak Midah dan tetap melanjutkan menikah dan resikonya di usir dari kampung asal mamak midah, dan hidup di Talang tempat terbuangnya Mamak dan Bapakku karena cinta mereka tidak pernah direstui dan memilih hidup menjadi petani. Rimba barisan tempat tauke muda beserta rombongan untuk memburu babi, tak ketinggalan Bujang ikut dalam perburuan itu. Dan akhirnya Bujang ikut Tauke Muda ke kota.

“Mamak akan mengizinkan kau pergi, Bujang. Meski itu sama saja dengan merobek separuh hati Mamak” Mamak

“Pergilah, anakku, temukan masa depanmu. Sungguh besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang…”

Berjanjilah kau akan menjaga perutmu dari semua itu, Bujang. Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.” 

Shadow Economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, dibawah meja / Black Market, Underground Economy. Keluarga Tong tempat Bujang hidup di kota yang menjadi tujuan Bujang meninggalkan Mamak dan Bapak. Siapapun orangnya, dari mana asalnya adalah keluarga. Keluarga Tong. Prinsip keluarga Tong adalah kesetiaan.

Tulisan didinding kamar Basyir: “I against my brother, my brothers and I against my cousins, then my cousins and I against strangers.” : Aku melawan kakakku; kakakku dan aku melawan sepupuku; sepupu-sepupuku, saudara-saudaraku melawan orang asing. Pepatah suku Bedouin symbol kesetiaan.

“Berlatih menjadi tukang pukul, justru akan membuatnya terjaga dari luka di masa depan Tauke. “ Bujang

“Samurai tidak hanya tentang perkelahian, Bujang. Bukan sekadar teknik membela diri atau teknik menyerang. Samurai adalah cara hidup. Prinsip-prinsip. Kehormatan. Aku mengajakmu berkeliling ke banyak tempat agar kau bisa berkenalan dengan hal tersebut. Merasakannya, menyentuhnya.

“Aku tidak bisa lagi melatihmu, Bujang. Tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Sekarang saatnya kau melatih diri sendiri dan menemukan jawaban dari dirimu sendiri. Hanya seorang samurai sejati yang tiba pada titik itu. Di titik ketika kau seolah bisa keluar dari tubuh diri sendiri, berdiri, menatap refleksi dirimu seperti sedang menatap cermin. Kau seperti menyentuhnya, tersenyum takzim, menyaksikan betapa jernihnya kehidupan, Saat itu terjadi, kau telah pulang, Bujang. Pulang pada hakikat kehidupan. Pulang, memeluk erat kesediahan dan kegembiraan.”

Kata baru: Triad, Yakuza, Valas, Mafhum, pelak, pion, bidak biasa, makanan Miesoa, da shou, samsak, limusin, rudal, amunisi, kamikaze, masygul, kolosal, Kelambit, konfrontasi.

Review:
Tentang Pulang, masa lalu, banyak filosofi kehidupan dalam novel Pulang ini, pemahaman-pemahaman arti definisi kehidupan yang selalu menjadi khas Tere Liye memang selalu menarik. Pulang ke tempat sebenar-benarnya pulang. Dari karakter Bujang sebagai tokoh utama dalam novel ini dengan menggunakan alur maju mundur. 

Quote:
1. Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apa pun penilaian kalian. Toh, aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar mereka.  Hal 1
2. Tapi jodoh adalah jodoh. Hal 13
3. Jika aku harus mati, aku akan memberikan perlawanan terbaik. Hal 19
4. Yang paling menyakitkan adalah aku harus pergi melupakanmu. Hal 22
5. Biarkan dia pergi dengan restumu agar langkah kakinya ringan. Hal 23
6. Sejauh apapun dia pergi, sejauh apapun dia menghilang, Tuhan akan menemukannya. Hal 23
7. Dalam hidupku, kematian orang terdekat selalu membuatku menjadi lebih lemah. Hal 66
8. Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapapun. Urus saja masa lalu masing-masing. Hal 101
9. Dikeluarga ini, masa lalu, hari ini, dan masa depan sepertinya berkelindan erat bagi setiap penghuninya. Hal 103
10. Jangan pernah tertipu dengan tampilan fisik. Hal 110
11. Semua orang memiliki kelindan sejarah dengan masa lalu. Hal 116
12. Tidak semua didunia ini bisa dibeli dengan uang. Hal 122
13. Biarkan apa yang menjadi urusan keluarga kami tetap menjadi urusan keluarga kami. Hal 122
14. Orang-orang akan setia jika diberi kesempatan kedua. Hal 143
15. Guru Bushi selalu bilang, “Ingat, Bujang. Jika kau tidak membunuh mereka terlebih dahulu, maka mereka akan membunuhmu lebih awal. Pertempuran adalah pertempuran. Tidak ada ampun. Jangan ragu walau sehelai benang.” Hal 153
16. Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain. Hal 188
17. Kau tidak pernah bisa meninggalkan masa lalu. Hal 205
18. Hanya kesetiaan pada prinsiplah yang akan memanggil kesetiaan-kesetiaan terbaik lainnya.  Hal 207
19. “Samurai adalah perjalanan hidup, Bujang. Hal 218
20. Aku tahu, kau tetap penasaran tentang banyak hal, karna kau dibesarkan dengan rasionalis. Tapi saat kau tiba pada titik itu, maka kau akan mengerti dengan sendirinya. Itu perjalanan yang tidak mudah Bujang. Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu, tapi diri sendiri, menaklukkan monster yang ada di dirimu. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya mudah saja. Hal 219 
21. Tapi benarlah kata orang, meski semua hal itu adalah kenangan menyakitkan, kita baru merasa kehilangan setelah sesuatu itu telah benar-benar pergi, tidak akan kembali lagi. 260
22. Entahlah, apakah lebih banyak luka di fisik Bapak, atau luka di hatinya. Aku tidak tahu. Hal 262
23. Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita untuk mengambil keputusan. Hal 262
24. Sekuat apapun kita berusaha, tetap saja masalah itu datang sendiri. Hal 271
25. Mudah sekali bicara, tapi menyakitkan menjalaninya. Hal 288
26. Musuh dari musuhku adalah temanku. Hal 292
27. Aku memang tukang pukul. Tapi bukan berarti aku tidak tahu cinta. Hal 311
28. Semua orang bisa berubah. Hal 313
29. Di keluarga ini, seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait mengait. Esok lusa kau akan lebih memahaminya. Hal 315
30. Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamaku, lebih banyak tangis di hati mamakku dibandingkan matanya. Aku tahu sekarang. Aku tahu sekarang. Hal 315
31. Hidup ini penuh misteri, Agam. Satu-dua aku mengerti jawabannya, dan lebih banyak yang tidak. Hal 322
32. Hidup itu sebenarnya perjalanan panjang, yang setiap harinya disaksikan oleh matahari. Hal 336
33. Tapi sungguh, jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu. Nak. Jangan pernah kau lawan. Karna kau pasti kalah. Mau semuak apapun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apapun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah. Hal 399
34. Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa ? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari buruk sekalipun? Hal 399
35. Sepanjang kita mau melihatnya, maka kita selalu bisa menyaksikan masih ada hal indah di hari paling buruk sekalipun. Hal 340
36. Hidup itu tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup itu hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran. Hal 340
37. Berdamai dengan kenangan. Hal 340
38. Pulanglah kepada Tuhanmu. Hal 340
39. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin. Sisanya akan kuserahkan kepada pemegang takdir kehidupan-Sesuatu yang tidak pernah kupahami dan kulakukan selama ini. Hal 345
40. Tuanku imam benar. Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit. Hal 345
41. Aku tidak bisa lagi melatihmu, Bujang. Tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Sekarang saatnya kau melatih diri sendiri dan menemukan jawaban dari dirimu sendiri. Hanya seorang samurai sejati yang tiba pada titik itu. Di titik ketika kau seolah bisa keluar dari tubuh sendiri, berdiri, menatap refleksi dirimu seperti sedang menatap cermin. Kau sepeti bisa menyentuhnya, tersenyum takzim, menyaksikan betapa jernihnya kehidupan. Saat itu terjadi, kau telah pulang, Bujang. Pulang pada hakikat kehidupan. Pulang, memeluk erat semua kesediahan dan kegembiraan. Hal 388
42. Sungguh, sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Hal 400


Cheers,
Cholifah




0 comments:

Post a Comment