Penulis: Dee Lestari
Cetakan kelima, Januari 2016
Penyunting: Dhewiberta
Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah
Penata aksara: Irevita & Bowo
Pemeriksa aksara: Intan & Pritameani
Foto Penulis: Reza Gunawa
Simbol sampul: Antahkrana
***
Dua tahun setelah roman mereka rampung, Dimas dan Reuben mengalami stagnansi. Hingga suatu hari mereka mendapat surat elektronik dari seorang teman bernama Gio. Kata “Supernova” yang disebut Gio dalam surat itu menjadi tanda tanya baru sekaligus awal pengetahuan Dimas dan Reuben tentang jaringan yang selama ini melibatkan mereka tanpa disadari.
Selama itu, di Kota Bandung, seorang gadis sebatang kara bernama Elektra berusaha menyambung hidup. Berawal dari perkenalannya dengan seorang yogini bernama Ibu Sati alias Mpret, hidup Elektra mulai terakselerasi. Dari anak kuper menjadi seorang pengusaha, dan akhirnya seorang penyembuh.
Setelah nyaman dalam lingkungannya yang baru, hidup Elektra kembali siap diguncang ketika Bong memintanya untuk menolong seseorang yang tak ia kenal bernama Bodhi.
***
Waktu adalah uang, tetapi uang yang terlalu luang merupakan bentukan lain dari kemiskinan. Dan, orang miskin dapat berontak tanpa takut kehilangan apa-apa. Hal 16
Rupanya tidak mudah mengubah sebuah pelarian yang sudah jadi kebiasaan. Hal 34
Manusia dapat bertransformasi total, menuju satu bentuk yang tak terduga
Bermitra tidak hanya sekadar perkara bagi keuntungan. Hal 57
Ternyata, ketika kita biarkan air hujan mengalir tanpa dilawan, rasanya nikmat sekali. Kalau kita biarkan kaki kita telanjang menyentuh becek tanpa takut cacingan, rasanya sangat membebaskan.
Pada saat engkau mengira telah berhasil menebak logika hidup, pada saat itulah ia kembali memuntir dirinya sendiri ke arah tak terduga dan jadilah kau objek lawakan semesta.
Pendidikan bangsa Indonesia dianggap gagal karena selalu pakai pendekatan yang materialistik dan inkremalistik, jadi butuh revolusi bukan revormasi.
Yang menjadi persoalan bukannya apa yang kita tanyakan. Tapi, bagaimana kita bisa mendengar jawaban. Hal 110
Petir terjadi ketika bumi dan langit ingin menyamakan persepsi. Kalau kamu mendengar bunyi Guntur di luar sana, artinya ada konflik sedang berusaha diselesaikan. Tujuh puluh sampai seratus kilatan setiap detiknya di seluruh bumi. Bayangkan, Alam tidak pernah berhenti membersihkan dirinya. Dan, kalau kamu sadar bahwa kita sepenuhnya bercermin pada alam, mungkin kamu bisa mengenali diri kamu sendiri. Setiap orang punya potensi dalam dirinya, Elektra.
Setiap orang sudah memilih peran uniknya masing-masing sebelum mereka terlahirkan ke dunia. Tapi, Setiap orang juga dibuat lupa terlebih dahulu. Itulah rahasia besar hidup. Nah, alangkah indahnya kalau kita bisa mengingat pilihan kita secepat mungkin, lalu hidup bagai hujan. Turun, menguap, ada. Tanpa beban apa-apa. Hal 140
Ada atau nggak ada saya kita selalu bersama. Kamu punya sebuah potensi besar di dalam sana. Kamu seperti permukaan bumi yang mengirimkan panas, energy, lalu alam merespons. Ia mencoba berkomunikasi. Memberi tanda. Tapi, tubuh kamu nggak disiapkan, ketidaktahuan kamu membuat jiwamu sendiri jadi bingung. Makanya kamu nggak ngerti-ngerti. Hal 141
Yang saya ketuk bukan Elektra, melainkan apa yang tetap hidup ketika Elektra mati. Kenali itu. Hal 141
Untuk tetap penuh dan utuh, kamu justru harus bisa mengalirkan kelebihan kamu. Namanya juga orang diberi kelebihan, berarti ada yang “Lebih”, kan? Sesuatu yang “Lebih” baru bermanfaat kalau dibagikan. Kalau tidak, ya, Cuma “Lebih” tok. Nggak ada artinya. Hal 205
Kekasihnya tidak butuh apa-apa. Hanya sedikit terapi jiwa. Mungkin sudah saatnya ia menyerah. Melewatkan satu lagi hari jadi tanpa cendera mata.
Tidak ada yang bisa menduga kapan mukjizat itu hadir, lewat siapa, dan dengan cara apa. Hal 226
Meditasi itu seperti mengonsumsi vitamin. Kamu hanya merasakan faedahnya kalau dilakukan teratur.
Dedi: Hidup adalah sirkuit listrik yang bisa diurai dan dirangkai. Rusak atau tidak hanyalah masalah teknis tanpa harus mempersalahkan siapa-siapa.
Bang Nelson: Hidup adalah masa perimbangan dua kuasa. Gelap dan terang.
Kunci orang miskin yang sebatang kara itu: Jangan sampai sakit, Kalau sampai sakit matilah.
Puisi:
Engkaulah kilatan cahaya yang menyapulenyapkan segala jejak dan bayang
Engkaulah bentangan sinar yang menjembatani jurang antara duka mencinta dan bahagia terdera
Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi bersinar diri untuk selamanya lelap
Andai kau sadar arti pelitamu
Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu
Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku
Karena kita Satu
Andai kau tahu
Kata baru: Pendekatan kualitatif, men-defrag otak, gelombang badai bening, ide yang konstan, ekapisme, terlalu malas untuk peduli, pil melatonin, Spiritualis bertemu efesiensi, stimulus baru, perkawinan elektris, nahas, aneba, orbit hidup, inferitory, Complex, mutung, fundamentalis, Distraksi, pinggan, ombak zaman, pucat pasi, sensibilitas, probabilitas, konstan silkular, stasioner. Statis, simbiosis, komensalisme, detoksifikasi, biosplasmik,
Quote:
1. Cinta tak butuh aksara. Hal 3
2. Baginya, hidup memang bukan siapa yang unggul atas siapa. Hal 29
3. Ternyata hidup tidak membiarkan satu orang pun lolos untuk cuma jadi penonton. Semua harus mencicipi ombak. Hal 33
4. Berhenti berpikir keluar, tetapi bereskanlah dulu ke dalam.
5. Janji kepada diri kamu sendiri. Janji kepada orang lain adalah janji yang paling mudah dilalaikan. Hal 150
6. Pekerjaamu kelak hanya penyambung nafkah, sebesar apapun kamu mencintainya, jangan takut untuk meninggalkan semua itu bila saatnya datang. Jangan ragu. Dirimu lebih besar dari yang kamu tahu. Hal 151
7. Orang yang menukar jiwanya sama duitlah yang bikin duit punya nyawa. Hal 170
8. Setiap perempuan pasti memiliki maksud yang sempurna. Untuk kamu, saya ada. Dan, untuk saya, kamu ada. Kita hadir untuk menyempurnakan satu sama lain Hal 193
9. Kebenaran memang sukar dicerna. Hal 195
10. Semua orang memiliki kemampuan cerna yang berbeda. Hal 195
11. Di dunia ini nggak ada yang sia-sia. Sampai kecoak pun ada gunanya. Hal 228
12. Harus bersabar, Percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Membiarkan hidup dengan caranya sendiri mengiring kita menuju sebuah jawaban. Hal 229
13. Banyak hal yang nggak perlu kedengaran bunyi-bunyinya. Tapi kelihatan tindakannya. Hal 258

0 comments:
Post a Comment