Cetakan Kesembilan, Januari 2016
Penyunting: Dhewiberta
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Penata Aksara: Intari D. & Pritamenani
Foto penulis: Reza Gunawan
Simbol sampul: Supernova Web
***
Menunaikan ikrar mereka untuk berkarya bersama, pasangan Dimas dan Reuben mulai menulis roma yang diberi judul
Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.
Paralel dengan itu, dalam kehidupan nyata, sebuah kisah cinta terlarang terjalin antara Ferre dan Rana. Hubungan cinta mereka mempresentasikan dinamika yang terjadi antara tokoh Kesatria dan Putri dalam fiksi Dimas dan Reuben. Tokoh ketiga, Bintang Jatuh, dihadirkan oleh seorang peragawati terkenal bernama Diva, yang memilki profesi sampingan sebagai pelacur kelas atas.
Tanpa ada yang bisa mengantisipasi, kehadiran sosok bernama Supernova menjadi kunci penentu yang akhirnya merajut kehidupan nyata antara Ferre-Rana-Diva dengan kisah fiksi karya Dimas-Reuben dalam satu dimensi kehidupan yang sama.
***
Tidakkah ada yang melihat? Betapa ketulusan bisa menjadi teramat konyol. Hasrat yang berlebih tanpa persiapan bisa berakibat fatal. Percaya membabi buta pada pihak asing bisa jadi senjata makan tuan. Strategi. Kemandirian. Itu dia kuncinya.
Dia adalah seorang yang harus sepenuhnya mewakili area abu-abu. Teory relativitas berjalan. Manusia penuh paradoks. Bukan tokoh antagonis, juga bukan protagonis. Penuh kebajikan, tapi juga penuh kepahitan.
Ketika manusia sudah mengatasi semua kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, ia pun dimungkinkan untuk mengejar pencarian lebih tinggi. Aktualisasi diri. Pengetahuan tentang dirinya sendiri di level yang paling dalam. Dia orang di level itu.
Ketika kita balikkan cara pandang kita, kenyataan pun berubah. Ternyata, pelacuran terjadi di mana-mana. Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran, bahkan jiwanya. Dan, bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran paling hina.?
Cinta tidak membebaskan. Konsep itu memang utopis. Cinta itu tirani. Ia membelenggu. Menggiringnya ke lorong panjang pengorbanan.
Cinta, kan, tidak butuh tali? Ia membebaskan, Jadi, buat apa kita melawan arusnya dan malah saling menjajah?
Otak adalah alat yang disediakan bagi kita untuk bermain dengan hidup Permainannya sendiri? Terserah Anda.
Manusia tidak diciptakan untuk terikat pada apa pun. Jangan pernah takut dengan kebebasan. Jangan pernah memanipulasi kebebasan.
Kejenuhan itu hal wajar sekali dalam pernikahan. Semua orang juga pasti mengalami. Yang pening, bagaimana kalian pintar-pintar menyegarkan suasana. Itu Saja.
Setiap pernikahan punya pasang surut. Sama hal-hal lain. Tapi, khusus yang satu ini, kamu enggak bisa begitu saja lepas tangan dan menyisihkan apa-apa yang menjadi ketidaknyamananmu. Sebagai seorang istri, kamu harus sadar suamimu bukan orang yang sempurna. Kalian harus saling memaklumi dan mau memaafkan satu sama lain setia hari. Kuncinya satu, komunikasi. Jangan lupa, segala sesuatunya diselesaikan dengan kepala dingin.
Nanti, setelah kau menjalani pernikahanmu sepuluh atau lima belas tahun, kau akan mengerti sendiri. Kebahagiaan yang kau maksud sekarang tidak akan kau pertanyakan lagi nanti. Mengerti? Akan ada satu masa ketika kebahagiaanmu pribadi tidak lagi berarti banyak.
Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah penuh. Tidak ada sesuatu pun dapat mengisi apa yang sudah penuh. Tidak ada satu pun yang dapat berpisah satu sama lain. Tinggal kemauan Anda untuk mampu MENYADARINYA, atau tidak. Temukan Knop Anda, dan putar.
Bagaimana mungkin sesuatu yang tadinya berusaha saya pertahankan mati-matian justru kembali ketika saya lepaskan? Perasaan ini sangat luar biasa. Rasanya terlahir kembali.
Bifurkasi itu adalah momen yang mengkristal. Kamu nggak bisa kembali ke sana, tapi ia selamanya ada dalam kekekalan.
“Kamu lebih baik nggak peduli karena kalau kamu tahu kenyataan sebenarnya, kamu bakalan sakit sendiri, kan? Nggak rela?”
Semua detik adalah baru, tidak ada perulangan. Ia hanya berpikir kalau ia mau. Dan, ilmu bagaikan sinar yang tinggal diserapnya begitu saja. Buku hanya masalah pemahaman dan sedikit waktu.
Free will adalah kebebasan manusia untuk mengubah perspektif. Kalau kamu jatuh miskin besok, apakah itu bencana atau berkat yang tersembunyi? Semuanya ada ditanganmu. Free will adalah kemampuan manusia mengubah konteks.
“Mungkin memang itulah hidup di alam dualitas. Seberapa pun luas pemahaman kita, akal bagaikan sebatang ilalang yang rentan bertiup angin. Gamang dan cepat goyang.
Hanya cermin yang relative lebih jernih. Kita semua bagai satu sama lain. Aku melihat diriku dalam kamu, dalam orang-orang, di dalam alam.
Sekolah itu buat siapa saja, tidak ada batasan umur. Mengajarkan satu hal, pemahaman tentang apapun yang berkenaan dengan hidup. Pertanyaan yang jadi fundamental adalah mengapa, bukan dulu apa. Sekolah jaringan tidak tersekap gedung beton.
Ketika Anda menemukan ide, sesungguhnya ide tersebut yang menemukan Anda. Ketika Anda berpikir Anda punya ide, sesungguhnya ide itulah yang memiliki Anda.
Supernova ingin membantu Anda untuk mengerti mekanisme yang sesungguhnya, melihat dengan dua sudut pandang. Sudut pandang sutradara dan sudut pandang actor. Dengan sadar bahwa keterpisahan dalam bioskop itu harus diakhiri, Anda akan mampu berpindah-pindah dari satu perspektif lain untuk mencapai apa pun yang Anda inginkan dalam hidup ini.
Supernova benar. Semua ini jaring laba-laba, dan selama aku diam dalam simpulku maka nggak mungkin aku bisa menerangkan jaring itu sendiri. Sains menerangkan segala-galanya. Termasuk sains pun fenomena dalam kesadaran. Yang kita cari adalah sains yang kompatibel dengan kesadaran.
Kata Baru: Turbulensi, Ekulibrium, Zona kuantum, rimba infinit, Probabilitas, Reduksionisme, Relativitas, Transenden, Amplifikasi, Klumininasi, Rekonsiliasi, Sufisme, Yuppies, dude, postulasi, insifnifikan, Rekonsiliasi, maneuver kuantum, intuitif, caliber, sekresi psikologis, utopis, bifurkasi, Teory Relativitas berjalan, Reduksionis, altruitis, impersonal, Pretansi, paradoks, dikotomi, molekul, Polimer elastis, Illinois, delusif, pampat, dimensi waktu, artifisial, probabilitas, oase, ekshibisi, emansipatoris, anomali, defensif, monostratif, microgynon, detoksifikasi, destruktif, prakonklusi, saturasi, simulacrum, spectrum konvergen, insulin, dimensi, preambule, irasional kronis, institusi, subtansi, bermutasi, mutan-mutan. Loncatan kuantum, hetero, manusia nuansa, kontinum, paradoks, samen leven, dikotomis, ekulibrium, imbesil, Badai serotonin Badai Endorfin/Hormon Cinta.
Puisi:
Aku kangen kamu, Kangen ketidakpercayaanmu.
Pesismismemu.
Namun, Kau pilihanku.
Aku adalah manusia statistis.
Statistik kita tidak bagus, Putri.
Aku adalah manusia butuh pengakuan.
Tak kutemukan satu orang pun yang mengakui kita.
Wahai, Tuhan
Aku tahu kita tak saling bicara
Tapi, tentunya Kau masih ingat aku,
Sebagaimana aku tak menyangkal-Mu
Dan, jika ini detik-detik penghabisanku,
Bebaskan aku berbicara semauku
Izinkan aku kesal kepada-Mu di dalam kepasrahanku
Sepanjang hidup Engkau membingungkan
Dengan cara-cara aneh, Kau tunjukan keagungan.
Kau, dengan teka-teki-Mu bernama Takdir.
Bahkan, di saat seperti ini, ada saja cara kalian membuatku
Tertawa sekaligus tersindir.
Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup.
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara.
Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.
Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakanmu tidak pasti. Namun, aku terus disini.
Mencintaimu.
Entah kenapa.
Putri,
Kembalilah ke puri ini.
Satu semesta mungil yang mampu melumat bumi.
Kalau aku mau membentangkannya.
Inilah nirwana yang mampu menampung perasaan kita.
Bumi punya langit sebagai jendela terhadap galaksi Mahaluas yang Berjaya dalam misteri.
Jendelaku adalah carik-carik kertas berisi daftar pertanyaan tentang dunia yang tak akan habis dimengerti.
Bumi menggetarkan nyali dengan palung-palung dalam.
Aku cuma beberapa piringan hitam
Laut pribadiku yang di dalamnya selalu ada kamu, dan kamu lagi.
Samudera kata terbelit musik dan diudarai kenangan.
Di dalamnya aku bisa berenang selama ikan.
Bumi adalah sebuah kumparan besar yang melingkarkan semua makhluk dalam kefanaannya. Melingkarkan engkau dan aku.
Quote:
1. Dua sisi cermin kehidupan, antara keteraturan dan ketidakteraturan, yang tertebak dan tidak tertebak.
2. Sains ternyata tidak selamanya objektif. Sains, sering kali, harus subjektif Hal 4
3. Keteraturan mau tak mau harus berkaca, menemukan dirinya ternyata berasal dari sebuah Maha Ketidakteraturan.
4. Ternyata hidup ini cair. Terus berjalan tanpa putus. Hal 7
5. Tidak ada awal dan akhir. Tidak ada sebab dan akibat. Tidak ada ruang dan waktu. Yang hanya adalah ada. Terus bergerak, berekspansi, berevolusi. Sia-sialah orang yang berusaha menjadi batu di arus ini, yang menginginkan kepastian ataupun ramalan masa depan karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastian manusia dapat bejaya, menggunakan potensi untuk berkreasi. Hal 7
6. Jika terlintas di hasratmu menatap keindahan yang kami puja /Liat ke dalam hatimu dan bayangnya pun kan nyata/jadikan hatimu cermin dan berkacalah disana/Temukan keagungan sahabat nan mulia. Hal 9
7. Bahwa kebenaran yang utuh baru kamu dapatkan setelah melihat kedua sisi cermin kehidupan. Tidak Cuma sebelah. Dan, cermin itu sangat dekat. Hal 10
8. Orang terlalu banyak uang dengan orang yang terlalu miskin akan bertemu di titik yang sama. Sama-sama krisis apresiasi. Hal 10
9. Dimataku, yang gagal dan cuma ngabis-ngabisin duit ortu dengan yang selesai tapi cuma jadi mesin. Hal 17
10. Pada titik tertentu, kisah cinta merupakan cerminan kisah masyarakat yang lebih luas dan kolektif. Individu selalu dibangun oleh lingkungannya. Hal 18
11. Hangat yang tampaknya kekal, Bukankah itu yang semua orang cari? Hal 20
12. Betapapun dalamnya kebahagiaan itu, selalu ada kekecewaan yang sama didalamnya. Hal 24
13. Apa yang dibayangkan kebanyakan orang jauh berbeda dengan apa yang sesungguhnya ia jalani. Hal 27
14. Komputer tidak pernah memberikan ruang pada intuisi. Hal 29
15. Pembicaraan yang tidak berskema kadang-kadang malah lebih punya bobot daripada yang direncanakan. Hal 31
16. Di antara kepadatan aktivitas Anda, pernahkan Anda menyempatkan diri untuk berkhayal, Melamun? Hal 32
17. Manusia bermimpi tidak hanya waktu tidur. Menurut saya, mimpi merupakan bentukan lain dari kreativitas. Menjadi kreatif tidak kenal siang atau malam. Ada banyak pekerjaan yang masih punya ruang untuk inspirasi, tapi banyak juga pekerjaan yang menyita segalanya. Pekerjaan tanpa mimpi, atau tanpa waktu untuk bermimpi, adalah pekerjaan robot. Bukan manusia. Hal 32
18. Saya ingin menjadi tamu yang diinginkan setiap rumah. Hal 33
19. Satu dongeng sedih yang tak sengaja kamu temukan. Masih banyak dongeng-dongeng lain yang berakhir bahagia. Hal 37
20. Tidak tahu kenapa. Konon, kita memang tidak pernah tahu akan bertemu siapa hari ini atau esok lusa. Hal 39
21. Hidup memang aneh. Banyak penjelasan di dalam ketidakjelasan. Hal 40
22. Komitment memang alasan paling bagus untuk berkompensasi. Hal 43
23. Ketika hati dapat menjangkau kualitas-kualitas yang tidak tertangkap mata. Pria itu melihat sesuatu yang lain. Hal 45
24. Kita butuh kejunuhan. Karena dengan demikian kita bisa menunjukkan ada skrup kecil yang longgar. Keresahan yang terabaikan. Hal 46
25. Tuhan berbicara lewat banyak hal, banyak mulut, dan banyak peristiwa. Hal 53
25. Tuhan berbicara lewat banyak hal, banyak mulut, dan banyak peristiwa. Hal 53
25. Tidakkah Anda ingin menemukan makna HIDUP selagi Anda hidup? Itulah kebahagiaan sesungguhnya. Hal 64
26. Hidup memang tidak boleh kehilangan makna. Hal 236
27. Hidup yang serba keras ini dapat seketika menjadi taman bermain. Hal 304
Review:
Novel Dee yang baru pertama kali saya baca… *Kemana aja selama ini? kabur ke timbuktu, sebelumnya hanya dinikmati melalui film “Perahu Kertas” yang suka banget… Keenan&Kugi. Filmnya nggak pernah bosan ditonton berulang-ulang.
Buku yang tergolong ‘Berat’ untuk saya, sebab Supernova berhasil membawa saya kemana-mana terutama daftar kata yang tidak pernah saya kenali sebelumnya, tentang remeh temeh fisika, sains yang belum saya pahami. Tapi tidak masalah bukankah itu salah satu tujuan membaca? Memperluas kosa kata? Memahami setiap lembaran maksud penulis dalam menyampaikan pesan.
Mendapat pandangan baru tentang pernikahan Rana & Arwin lagi dan lagi menikah berdasarkan bobot, bibit, dan bebet. Ehm… Mulai dari sejarah, mitos, sains, dialog keseharian, alam semesta. Berkeliaran ke alam bebas. Cukup 3 hari menikmati 318 halaman. *Wow

0 comments:
Post a Comment