Saturday, March 19, 2016

Akar

Penulis: Dee Lestari
Cetakan keenam, Januari 2016
Penyunting: Dhewiberta
Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah
Penata aksara: Irevitari, Binangkit
Pemeriksa aksara: Intan Ren & Intan D.
Foto Penulis: Reza Gunawa
Simbol sampul: Flower of Life


***
Di Bolivia, Gio mendapat kabar bahwa Diva hilang dalam sebuah ekspedisi sungai di pedalaman Amazon.
Di Indonesia, perjalanan seorang anak yatim piatu bernama Bodhi dimulai. Bodhi, yang dibesakarkan di wihara oleh Guru Liong, akhirnya meninggalkan tempat ia dibesarkan dan berpetualang ke Asia Tenggara. Di Bangkok, ia bertemu dengan pria eksentrik bernama Kell yang mengajari seni tato.
Setelah melalui petualangan yang berliku di berbagai Negara, Bodhi akhirnya kembali ke Indonesia. Ia dipertemukan dengan tokoh punk karismatik bernama Bong. Sejak itu, Bodhi menjadi bagian dari komunitas punk dengan perannya sebagai seniman tato.
Sebuah surat misterius yang ditemukan secara tidak sengaja oleh Bodhi kembali membawanya ke gerbang petualangan baru.
***

Manusia yang selalu hidup di benang perbatasan antara waras dan gila, antara kata mutiara dan umpatan durjana adalah manusia yang paling kesepian. Lautan manusia lain hidup nyaman di area “wajar-wajar saja”. Bukan aku. 

Seseorang yang selalu membuat pikiran beku sejenak demi meresapi kehangatan yang entah bersumber dari mana, tetapi menyebar rata ke seluruh tubuh, menggembungkan pori-pori, dan membuatmu merasa jadi landak. 

Bagaimana mungkin ada seteru jika tidak ada konsep ambisi? Bagaimana bisa ada kompetisi jika semua orang melakukan hal serupa dengan gaji sama rata? Karena tiada jenjang yang perlu didaki, kecuali tangga bambu yang seragam. 
Umur manusia sesingkat kedip cahaya kunang-kunang, semahal dengusan bison pada musim dingin. 

Apel itu membuka pikiran mereka berdua dan pikiran jugalah yang akan menjadi jalan mereka untuk kembali ke Firdaus.

Guru, sudah lama aku berjalan, kian banyak yang kutahu, tetapi hidup ini kian asing rasanya. Apakah kesejatian itu? Apakah benar-benar ada atau cuma impian masa muda? Dan, Tasbihmu pun kembali pulang ke genggamanku. Hal 162

Hidup ibarat memancing di kali Ciliwung. Kamu tidak pernah tahu apa yang kamu dapat. Ikan, impun, sandal jepit, taik, bangkai, dan benda-benda ajaib lain yang tak terbayangkan. 

Puisi:
Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudra terkelam
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama, tetapi terasa ada
Ajarkan aku
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut
Bangun dari ilusi, tetapi tak memilih pergi 

Kata baru: chola, cueca, Halitosis: Bau nafas yang tak sedap, detonator, rhizoma, Sinar lampu natrium, sublimasi, Farang, papir, Manusia kaukasoid, respirokal, instingtif, batas sublimasi ego, pretensi, inferitory complex, ion mobality spectrometry, susu kondens, rasialis, thermal imaging,  Transendensi, Transendensi, opresid, eskapisme terselubung,

Quote:
1. Kita memang tidak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di depan mata. Hal 1
2. Kita tidak pernah menyadari ketidaklengkapan hingga bersua dengan kepingan diri yang tersesat dalam ruang-waktu. Hal 1
3. Sungai yang diarungi membuat seseorang bertambah kuat, tetapi sungai yang dipandangi Cuma akan melemahkan hati. Hal 6 
4. Kehilangan seseorang yang kita cintai memang tidak pernah gampang. Hal 7
5. Semua orang yang yang mau pergi selalu berkata hal yang sama, mereka akan baik-baik saja, padahal tidak ada yang tahu. Hal 12
6. Ternyata pikiran itu tak terhingga liarnya, luasnya, cepatnya. Luar biasa ringan, sekaligus mengerikan. Hal 43
7. Bahwasannya setiap kata adalah mantra. Hal 46
8. Dalam ketidaktahuan kita justru dapat bimbingan. Hal 56
9. Kamu memilih jalur susah untuk perjalanan yang mestinya sangat gampang. Hal 72
10. Berhenti mencari maka kamu akan menemukan. 72
11. Semua ini ada karena pilihan. Hal 108
12. Selama hidup mereka konstan mengeluh dan mengaduh, tapi begitu hidup ingin menarik diri, mereka tidak pernah rela. Hal 110
13. Dan, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada membuat sahabatmu bahagia. Ya, kan? Hal 112
14. Langkahkan kaku, tendangi kerikil, dan temukan kesejatian itu. Biarpun Cuma sendirian. Biarpun punggung pegal dan tengkuk tebal akibat disembur angina terus-menerus. Hal 113
15. Jangan pernah berpuas diri di titik yang sama. Teruslah berputar, berputar, seperti kipas angina yang tak rusak. Hal 113
16. Hidup ini relative. Apa yang kamu pikir salah di sini bisa jadi sahih di tempat lain. Racun bisa jadi obat. Obat bisa jadi racun. Hal 145
17. Matahari saja tidak muncul 12 jam di setiap tempat! Semua bergantung di mana kakimu berpijak. Hal 146
18. Life is all about how to control our minds, and how to make us of our limited knowledge. Hal 156
19. Satu-satunya cara untuk mengetahui asal usulmu adalah keluar, lalu kembali. Hal 157
20. Semua tulisan yang kamu baca itu Cuma kotoran, pupuk kandang. Kamu timbun dirimu sampai mati sesak. Tapi, apa yang kamu cari tida ada di buku atau kitab manapun. Hal 158
21. Semoga kamu temukan kesejatian dirimu. Dimana pun itu. Cuma kamu yang tahu. Hal 162
21. Karena ketidaktahuan kadang lebih baik dari kesediahan. Lebih baik dari segalanya. Hal 241

0 comments:

Post a Comment