Penyunting: Adham T. Fusama
Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah
Pemeriksa aksara: Intan Puspa, Kiki Riskita Sari, Achmad Muchtar
Penata Aksara: Martin Buczer
Foto Penulis: Reza Gunawan
Ilustrasi isi: Caesar Candra
Simbol sampul: Triple Helix Infinitium
***
Setelah mendapat petunjuk dari upacara Ayuhuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Di Jakarta, dia menemui Dimas dan Reuben. Bersama, mereka berusaha menelusuri identitas orang di balik Supernova.
Di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan mereka berdua tentang tempat bernama Akso, Sedangkan Zarah, yang pulang ke desa Batu Luhur setelah sekian lama menglanglangbuana, kembali berhadapan dengan misteri hilanghnya Firas, ayahnya.
Sementara itu, dalam perjalanan pesawat dari New York menuju Jakarta, teman seperjalanan Alfa yang bernama Kell mengungkapkan sesuatu yang tidak terduga. Dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan antara mereka perlahan terkuak. Identitas dan misi mereka akhirnya semakin jelas.
Hidup mereka takkan pernah lagi sama.
***
Umbra: Bertugas membayangi kalian, membantu jika dibutuhkan, Peretas/Pembebas: Datang ke Bumi dengan satu tujuan berulang-ulang
Gugus Oktahedron: Gugus paling stabil
Yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi (Pepatah latin)
Quote:
1. Manusia itu makhluk darat, tapi pikirannya macam air. Bergoyang sebentar, lalu rata seperti tidak terjadi apa-apa. Hal 10
2. Cinta memang membutakan, Alfa. Satu-satunya subtansi yang mampu mentransendensi segala perbedaan, termasuk perbedaan dimensi. Hal 62
3. Manusia adalah makhluk yang di gerakan kebiasaan dan otomatisasi. Hal 98
4. Setiap kematian mengajarkanku sesuatu, yakni lebih lihai menikmati hidup. Hal 195
5. Manusia itu ngomong A, padahal B. Mukanya bikin C, padahal di hatinya D. Tujuannya E, tapi mutar-mutar dulu sampai Z. Bahasa itu, kan, gunanya buat jadi topeng. Manusia belum sanggup transparan. Hal 415
6. Kejahatan yang paling mengerikan tidak akan dengan api dan tanduk, tetapi jubah malaikat. Ia membius dengan kebajikan. Mereka yang terbius akan rela mempertaruhkan nyawa untuk membela apa yang mereka kebajikan. Hal 459
7. Jangan sampai harapan membuat kita buta pada kenyataan. Hal 505
8. Kamu berhak atas lembaran baru. Tapi, kamu ndak akan maju-maju selama kamu belum belajar memaafkan. Hal 525
9. Pelajaran terpenting bagi para peretas adalah berdamai dengan pilihan-pilihannya sendiri, sesulit apa pun itu. Hal 526
10. Niat menggerakan pikiran. Hal 600
0 comments:
Post a Comment