Saturday, March 19, 2016

Partikel



Penulis: Dee Lestari 
Cetakan Ketiga, Januari 2016
Penyunting: Harmawan Aksan & Dhewiberta 
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Penata Aksara: Tim bentang
Ilustrator: Motulz 
Foto penulis: Reza Gunawan
Simbol sampul: Earth


***
Di pinggir kota Bogor, dekat sebuah kampung bernama Batu Luhur, seorang anak bernama Zarah, dan adiknya, Hara, dibesarkan secara tidak konvensional oleh ayahnya, dosen sekaligus ahli mikrologi bernama Firas, Cara Firas mendidik anak-anaknya mengundang pertentangan dari keluarganya sendiri.
Di balik itu semua, masih tersimpan berlapis misteri. Antara lain hubungan khusus Firas dan sebuah tempat angker yang ditakuti warga kampung. Tragedi demi tragedy yang menimpa keluarganya membawa Zarah ke sebuah pelarian sekaligus pencarian panjang. 
Di konservasi orangutan Tanjung Puting, Zarah menemukan kedekatannya kembali dengan alam. Namun di London, tempat Zarah akhirnya bermarkas, ia menemukan segalanya, termasuk petunjuk penting yang membawa titik terang bagi pencariannya.
***

Fungi adalah makhluk berkesadaran yang tahu dan bisa merasakan makhluk lain. 

Mata yang baik: mata yang tidak sombong. 

“Alam dan kita adalah satu, Zarah. Ketika kita percaya kepada alam, maka alam akan melindungi kita. Alam akan berbicara kepada kita dengan bahasa tertentu. “Bahasa rasa dan tanda” Hal 62

Ketika manusia yang tidak sadar berubah jadi makhluk sadar, saat itu juga dia terhubung dengan jaringan informasi yang selama ini tersembunyi. Informasi penting tentang semesta ini akan mengalir tanpa ada yang bisa menyetop. Saat itulah manusia bisa berubah jadi pemelihara. Sekarang ini, Sedikit sekali manusia yang terhubung. Hampir semuanya terputus dari jaringan. Mereka jadi penghancur karena akses mereka tertutup. Mereka yang sudah terhubung yang punya kesempatan jadi mediator, menjadi jembatan untuk informasi itu. Hal 74

Kami tidak akan mengganggu jika tidak diganggu,  Bahwa kegelapan ini bukan lagi milik malam. Hidup di dunia untuk membangun hidup di akhirat. 

Puisi:
Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara
Engkaulah lengang tempatku berpulang
Bunyimu adalah senyapmu
Tarianmu adalah gemingmu
Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Dalam hadirmu, keabadian sayup mengecup
Saput batinku meluruh
Tatapmu sekilas dan sungguh
Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana
Telanjang tanpa kata-kata
Cuma kini
Tinggal sunyi

Kata Baru: Reservoir, Aib kolektif, manusia paling persisten dan konsisten, Homo sapiens, bahasa biomolekuler, miselium, segitiga eksistensi, Permakultur, pupuk mikoriza, rehabilitasi miselium, mengultivasi, sistem pendidikan swalayan, bulu kudukku meremang, dimensi lain, anomali, akumulasi, intuisi, consensus, adaptasi kolektif, labirin rahasia, aliansi, kolusi, subtansi, komunitas resiplokal, menginspeksi, afirmasi, perespektif, distorsi, merekonstruksi, anonin, cairan emulsi, jasa detiektif partikelir, sergahku, vegetasi, amflikasi, monoton dan unison, difusi, sadomaksokis, insignifikansi, tantrum, manusia termasif, shamanisme, teralienasi, inteligensi kosmos, direstorasi, monokrom, mengalienasi, manusia paling independen, androgini, 

Quote:
1. Mungkin dengan pulang ke rumah, kamu malah menemukan sesuatu. Hal 7
2. Tidak ada yang abadi di muka Bumi ini. Hal 28
3. Lebih gila lagi orang yang menjadikan anak orang sebagai kelinci percobaan dari sistem yang sudah ketahuan tidak menghasilkan apa-apa selain robot penghafal. Hal 50
4. Banyak orang yang berusaha menjatuhkan kepercayaan dirimu meragukan ucapanmu, menganggapmu gila. Yang paling sulit dari semua itu adalah percaya kepada dirimu sendiri, percaya bahwa kamu tidak gila. Hal 75
5. Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Agar keduanya bertemu, yang dibutuhkan Cuma waktu Hal 69
6. Selama lensa yang dipakai berbeda, warna langit tak akan seragam. Hal 94
7. Kenapa berbeda jadi begitu menakutkan? Hal 105
8. Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu malah tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu. Hal 160
9. Sekarang ini, sulit mencari orang yang benar-benar mau mendengar. Hal 160
10. Segala sesuatunya satu, Aku percaya Cuma alamlah yang punya kekuatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Hal 189
11. Alam tidak pernah basa-basi. Dengan jujur dan tanpa kompromi, alam menunjukkan bahwa terkadang kita harus mati demi memperjuangkan tujuan yang lebih besar. Hal 194
12. Kalau di dalam damai, semua tempat bisa dijadikan rumah. Hal 213
13. Kadang kala, batas antara intuitif, nekat, manjur dan bodoh, amatlah tipis. Hal 248
14. Pada akhirnya seluruh hidup kita menjadi spiritual tanpa perlu dicari-cari. Hal 384
15. “Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. Jangan pikirkan kamu sampai dimana dan kapan. Tidak ada yang tahu. You strength is simply your will to go on. Hal 461
16. Kematian dan kehidupan sesungguhnya satu dan tak terpisahkan. Hal 464
17. Kegelapan tidak selalu mengerikan. Tidak ada terang tanpa gelap. Keduanya terus berkolaborasi supaya kehidupan ini berjalan. Hal 465
18. Merangkul kegelapan sebagai hakiki hidup ini. Hal 465
19. Saya melihat tumor itu semacam pemicu untuk mencari lebih dalam, mempertemukan saya dengan lebih banyak pengetahuan, membuka mata saya bahwa penyakit bukan sekadar gangguan. Tapi kode. Kode dari tubuh bahwa ada hal dalam hidup kita yang harus dibereskan. Hal 466
20. Kematian adalah gerbang petualangan baru. Hal 467
21. Hidup bukan Cuma terbatas apa yang kita alami sekarang saja. Ini hanya sekelumit dari berbagai bentuk kehidupan lain. Hal 467











0 comments:

Post a Comment